Dikirim: October 27th, 2009 | Oleh: Bunlinya Agha | Kategori: Diary, Klik Jepret | 4 Komentar »

Bergaya dulu sebelum makan

Aaaaa... ayo buka mulutnya

Nyam nyam nyam, langsung lahap

I love MPASI
Setelah semalam Agha nyobain MPASI untuk pertama kalinya. Tanggal 12 September, Agha pertama kali makan MPASI di rumah. Tentu saja Yahyo mengabadikan moment ini dengan camdig-nya 
Ternyata Agha memang doyan lho…, gak sabar pengen kejar sendoknya. Ini foto waktu disuapin bubur biskuit Farley. Emang dasarnya sadar kamera, mau makan dan habis makan bergaya dulu.
Oh ya kali ini Agha menghabiskan 1 keping biskuit Farley, ½ pisang, 2 sdt bubur susu dan 1 buah tomat.
Dikirim: October 27th, 2009 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Bunli&Yahyo | Comments Off

Apa sih ni? bubur susu rasa sayur mayur Gha
Tanggal 11 September 2009 akhirnya Agha diberi MPASI (Makanan Pendamping ASI) untuk pertama kalinya setelah pulang dari dokter, rencananya mau imunisasi tapi gak jadi krn masih panas. Jadi sebelumnya Agha panas, batuk dan pilek bikin Agha agak-agak enteng dan lemes badannya.
Demi suksesnya MPASI, Bunli dan Yahyo ajak Agha beli biskuit bayi Farley, bubur susu SUN dan buah-buahan. Habis belanja mampir lagi ke rumah Nenek, biar Nenek dan Kakek ikutan lihat Agha makan MPASI untuk pertama kalinya.

Eh enak, Agha mau lagi Bunli

Enak lho... tambah lagi
Bunli cobain 1 sendok teh bubur susu rasa sayur mayur, pertama dikasih Agha masih cuek karena masih lemas. Gak lama Agha mulai antusias, mulai duduk tegak gak sabar menunggu suapan berikutnya. Asyik!

Ternyata pisang juga enak... Agha doyan Bun
Habis bubur susunya, sepertinya Agha masih pengen tambah. Ya sudah Bunli kasih coba makan pisang aja. Eh doyan! Satu buah pisang ambon ukuran kecil yang dikerok halus pakai sendok habis dilahap Agha. Senangnya…, habis itu Agha mulai aktif lagi. Waaaa! Kata Nenek, Agha kemaren lemes karena belum dikasih MPASI sama Bunli nih, padahal Agha sudah lulus jadi sarjana ASIX. Hehehehe, gitu ya Nak, besok2 makannya yang pinter lagi ya!
Dikirim: October 21st, 2009 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Bunli&Yahyo, Gamitra | Comments Off
Ceritanya, Agha mendapatkan voucher dari teman Yahyo untuk foto studio. Mulanya kami mengantar Agha di hari Sabtu, 10 Oktober yang lalu, namun ternyata kami diharuskan untuk janjian terlebih dahulu dengan fotografernya. Kami kan tidak tahu harus bikin janji terlebih dahulu, soalnya di vouchernya pun tidak ada tulisan aturan seperti itu. Untung lah jarak studio foto dengan tempat tinggal kami tidak terlalu jauh, jadi kami pun bersedia ketika mereka memberikan jadwal sessi pemotretan jam 15.00 esok harinya, yakni hari Minggu, 11 Oktober.
Esok harinya kami pun berangkat mengantar Agha untuk memenuhi jadwal sessi pemotretan di studio. Dalam hati, kami juga ingin melihat bagaimana sebenarnya studio menangani sessi pemotretan anak dibawah satu tahun. Asal tahu saja, memotret anak di bawah satu tahun itu susah-susah gampang lho. Diperlukan pendekatan yang baik sehingga si anak merasa nyaman dan mau di foto dengan gaya yang sesuai dengan keinginan fotografer atau pemesan foto.
Namun sayang, pendekatan terhadap anak kelihatannya kurang baik dilakukan oleh mereka. Pada akhirnya kami lah yang sibuk membantu si fotografer untuk membuat Agha nyaman di foto. Tapi sudahlah, kami tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh pada akhirnya Agha mau difoto dengan berbagai gaya yang bisa dia lakukan
Selanjutnya, setelah sessi pemotretan selesai dilakukan, kami diharuskan memilih sendiri foto yang hendak di bawa (di burn ke CD). Dari 19 foto yang diambil, yang boleh kami bawa hanya 12. Jadi kami harus merelakan membuang 7 buah foto dengan memilih 12 foto terbaik menurut kami. Berikut ke-12 foto yang kami pilih.

Fotografernya agak jorok dalam pengambilan foto. Studio tidak dilengkapi oleh layar putih sebagai background, namun hanya menggunakan tembok yang ada saja. Perhatikan batas lantai yang ikut ke foto dan juga kaki tripod yang ikut masuk dalam frame. Ketika kami minta agar backgroundnya dibersihkan, yang mereka lakukan adalah memotong (cropping) foto agha dengan teknik yang kasar sehingga potongannya sangat jelas terlihat. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta foto aslinya saja (yang belum mereka cropping) dan mengembalikan foto yang telah mereka cropping (karena memang tidak diperbolehkan dibawa dua-duanya).
Setelah itu, kami diharuskan memilih 5 buah foto diantara 12 foto yang kami pilih itu untuk dibuatkan montasenya. Kami pun melakukannya dengan hikmat, memilih foto yang kami suka dari foto-foto yang kami suka semua. Setelah selesai, kami pun memberikan kelima nama file yang telah kami pilih.
Apa yang terjadi? Mereka bilang bahwa foto-foto yang kami pilih tidak bisa di montase. Lho? Kami protes karena diawal saat kami disuruh memilih tidak ada aturan foto seperti apa yang harus kami pilih. Jadi sudah jelas pula kami menolak untuk memilih kembali. Lha capek dong, udah milih-milih terus suruh mengulang memilih lagi, moodnya sudah hilang. Lalu mereka akhirnya berjanji akan mencoba melakukan montase terhadap foto-foto yang kami pilih setelah saya katakan, bahwa jika mereka tidak bisa melakukan montase terhadap foto-foto ini, maka biar saya saja yang melakukannya
Mereka minta waktu satu minggu untuk melakukan montase foto-foto tersebut dan mereka menawarkan kepada kami untuk melihat terlebih dahulu hasil montasenya sebelum dicetak Sabtu, 17 Oktober.
Hari Sabtu yang lalu kami pun datang untuk melihat hasil montase foto-foto Agha. Terus terang, kami sudah pesimis hasilnya tidak bagus, dan ternyata dugaan kami tidak salah. Ini hasilnya:

Terus terang, kami agak bingung ketika ditanya apa yang kurang dengan hasil montase yang mereka buat. Karena kami pikir kurangnya banyak sekali, dan maaf, bagi kami tidak bagus sama sekali. Hanya saya tidak tega untuk mengatakannya jadi hanya diam seribu bahasa.
Karena saya tidak puas atas hasil montase yang mereka buat, akhirnya saya memberikan penawaran, yakni bagaimana jika saya sendiri saja yang melakukan montase foto-foto Agha? Mereka mulanya agak bingung, tapi kelihatannya si Mbak yang melayani juga agak sadar kalau hasil montasenya tidak bagus. Alhasil, kesepakatan dibuat, saya akan membuat montase sendiri dan akan dibawa secepatnya ke studio foto untuk dicetak dengan ukura 80 x 30 cm.
Nah, hari Selasa tanggal 20 kemarin, saat SBY dan Boediono dilantik menjadi Capres dan Cawapres, saya selesaikan tugas membuat montase tersebut. Sambil belajar menggunakan GIMP maka jadilah montase hasil karya Yahyo-nya Agha seperti dibawah ini:

Berbagai perbaikan foto juga saya lakukan, menghilangkan kotoran di backgroud (di tembok), menghilangkan batas lantai, menghilangkan kaki tripod dan sebagainya. Ternyata menggunakan GIMP sama mudahnya dengan menggunakan Photoshop
Sekarang Agha punya foto hasil montase spesial dengan ukuran 80 x 30 cm. Spesial juga karena Ayahnya sendiri yang membuat
Dikirim: October 19th, 2009 | Oleh: Yuliazmi | Kategori: Bunli&Yahyo | Comments Off

Gaya Agha pakai sepatu baru
Agha punya sepatu pertama lho…! Setelah Agha belajar titah, sekarang makin senang berdiri-berdiri lalu melangkah, kadang melangkah maju kadang malah mundur. Jadi semalam Bunli dan Yahyo berburu sepatu untuk Agha, sepulang dari halal bi halal keluarga besar Angku Syarief.
Seperti biasa, Agha pasti ikutan memilih, dan sepatu pilihan Agha jadi sepatu pertama yang dia pakai. Sepatu biru dari bahan kain motif tartan merah-biru, sengaja dipilih yang model berperekat bukan yang ber-ikat tali mengingat Agha sangat cinta dengan tali, hehehe. Di mobil, habis beli langsung dicoba pasang oleh Yahyo saat Agha lagi serius mimik. Cuek aja tuh waktu dipakaikan soalnya Agha terlalu haus untuk berhenti mimik, tapi selesai terpasang langsung dia menggoyang2kan kakinya tanda tahu kalau pakai sepatu, hehehe.

Pegang-pegang sepatu

Atur gaya mau difoto
Tadi pagi sebelum pergi sekolah, Agha sudah pakai sepatu, sudah titah juga sama Bunli. Sambil menunggu Bunli beberes peralatan perang Agha untuk sekolah, Agha main2 dengan sepatunya. Dipegang-pegang, diperhatikan dan diteliti dengan seksama. Eh begitu Yahyo motret Agha, langsung deh Agha pasang gaya cool-nya … ! hehehehe