Dikirim: July 27th, 2010 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Agha yang umurnya 16 bulan ternyata SANGAT suka main Rubik Cubes, dan seperti yang sudah diduga Yahyo-nya juga SUKA main Rubik. Saya yang juga penasaran dengan magic cubes ukuran 3x3x3 itu kebetulan sudah pernah membelinya. Jadilah Rubik Cubes jadi mainan Agha, setiap hari pasti dia serius, asyik memutar2 Rubik Cube dengan cepat layaknya pemenang Speed-Cubing.
Agha, 16 mo toddler, loves playing Rubik Cube. Monopolize by himself, forcing Yahyo, his father play the Rubik Snake –which he offered to Agha– so he can play without being distracted
Waktu minggu lalu mengunjungi Eyang Ti, kami membeli Snake Rubik. Agha pun langsung serius ikut membongkar komposisi dan memutar-mutarnya. Bahkan Rubik 3x3x1 yang kami juga beli, juga menarik perhatian Agha, sayangnya mutu buatannya kurang bagus, keras dan sulit untuk diputar.
Nah Wiken kemarin, Yahyo membeli Rubik Cube yang lebih baik mutunya karena Rubik yang lama pecah. Karena memang mutunya bagus, enak putarannya, Agha makin suka memainkannya. Jadilah Yahyo-nya yang sedang penasaran main Rubik harus mengalah dengan Agha. Demi memonopoli Rubik Cube baru, Agha “mengultimatum” Yahyo untuk main Rubik Snake saja :D
Dikirim: July 6th, 2010 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Ini dia Agha, akhirnya kesampaian juga difoto memakai batik 17-tahunnya di usia 1 tahun. Inginnya sih difoto pas tepat Agha ulang tahun ke-1. Tapi karena kurang sehat pas ultah, trus ada satu dan lain hal mundur terus deh jadwal fotonya. Akhirnya baru difoto tanggal 9 Juni 2010 pagi, tepat saat Agha ulang bulan ke-15. Karena Agha sudah bisa jalan, jadi terpaksa berfoto ditemani Bunli, soalnya dia maunya ngejar Bunli terus.
Dikirim: June 25th, 2010 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Agha (15 months) exploring the geometry-shaped wood-puzzle in his own way. Unchallenged by only putting the puzzle on the right track, he arrange the item to stand up in his own composition included the circle-shape.
Put them side by side near and far from his body…, repeat it again and again when they fall.
Agha (15 months) exploring the geometry-shaped wood-puzzle in his own way. Unchallenged by only putting the puzzle on the right track, he arrange the item to stand up in his own composition included the circle-shape.
Put them side by side near and far from his body…, repeat it again and again when they fall.
June 22nd, 2010 @Nenek’s house
Senang & takjub, lihat Agha serius & sukses berulang2 mendirikan berbagai bentuk puzzle kayu termasuk yang bentuk lingkaran. Walau gagal atau jatuh lagi tersenggol olehnya, Agha tetap asyik sendiri, gak nangis, gak bosen dan gak kesel. Bahkan senyum2 gemes waktu merasa komposisi susunan puzzle yg berdiri sesuai dengan yang ada dibenaknya
Dikirim: April 16th, 2010 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Curiously sip and sip from the straw
Yaay! Finally my boy Agha (1 year and 1 month years-old) able to drinking with straw! Coincidentally, when Agha saw me drinking from my sippy bottle, I gave him a try. He nibbled and sipped it, and suddenly the water flew up trough the straw! I saw his amazed face when find out that he can do it! Then, he sipped the straw repeatedly, enjoying the
phenomenon of sipping the straw, drinking the cool water. Congrat Dear!
Akhirnya Agha bisa minum pakai sedotan waktu coba gigit2 sip-bottle nya Bunli waktu main ke kampus tanggal 14 April 2010 kemarin. Sebelumnya dia cuma gigit-gigit sedotan MagMag-nya, eh gak diduga pas coba sip bottle Rubbermaid yang kaku (kalau MagMag kan fleksibel) ternyata sukses dia nyedotnya. Senangnya! Apalagi lihat tampangnya yang seperti “tercerahkan” hehehehe. Gak rugi deh hari itu anak Bunli gak sekolah di rumah Nenek tapi ngampus .
Dikirim: March 9th, 2010 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Tidak terasa, pagi itu saya bangun ditemani adik bungsu saya Yessi… hanya berdua, karena suami tercinta masih berpacu dengan waktu dan kantuk menjemput ibundanya di Bandung. Tidak lama sayapun sudah berangkat ke RS Yadika Ciputat bersiap menjalani sectio yang disarankan dosg. Menjalani beberapa test sambil mengupdate status di plurk, sementara Mama, Papa, ipar, sahabat dan kerabat lainnya mulai datang menemani sampai lengkap suami dan mertua.
Menjelang siang, sedikit lewat dari jadwal sebelumnya sayapun masuk ruang operasi. Dingin, dokter dan perawat sudah siap dengan peralatan operasi. Bius lokal, dan operasi dimulai. Sedetik, semenit, 5 menit … tiba-tiba dokter berseru, “Alhamdulillah, laki-laki bu” … Ah Agha sudah lahir (pukul 11.40), tapi mana tangisnya? sedetik, semenit, … dan menggemalah tangis keras bayi laki-lakiku … tangis yang khas, “nggaaaa…nggaaaa” bukan tangis biasa seorang bayi yang Oooaaa Oooeee.
Setelah menunggu lagi, baru bayi mungil bersuara keras itu diletakkan didada. Seolah hafal dengan namanya, tak lama Agha mulai tenang mendengar saya memanggil-manggil namanya. “tenangkan dengar detak jantung bundanya…Lho, kok malah tidur ” seru dsa yang memantau proses inisiasi dini sambil mengangkat Agha, lalu meletakkannya kembali. Menangis lagi… tenang lagi, … dan tidur lagi! Ah anakku, terpengaruh bius lokal jugakah?
Terimakasih ya Allah, setelah 8 tahun lebih kami menunggu Kau berikan kami Agha. Hilang semua penat penantian… Tak terasa sudah setahun kami bersamanya, melalui waktu-waktu indah menyaksikan perkembangannya. Jagalah dia, lindungilah ia, agar kami dapat selalu mensyukuri tahun-tahun berikutnya, menyaksikannya besar dan dewasa. Amin
Akhirnya bertemu Agha lagi yang sudah bersih dan berbalut selimut di ruang recovery. Mungil, chubby, seluruh mukanya pipi semua sampai matanya terbenam sipit, sedang hidung dan mulut mungilnya saling berlomba siapa yang lebih tinggi. Hanya sekejap karena Agha akan menunggu saya di ruang bayi. Baru menjelang sore, saat saya sudah dikamar perawatan Agha diantar untuk room-in dengan saya, lalu saya memeluknya, menciumnya, menyusuinya.
Lalu waktu berlalu dengan cepat…, kadang terasa lambat tapi tak lama melesat secepat kilat.
Tadi pagi saya terbangun, bertiga. Bayi mungil itu sudah terlihat lebih besar dan tinggi, walau tetap mungil. Tak lama ia terbangun juga… matanya tampak bulat berbinar, mulut mungilnya berceloteh bahasa bayi. Dan saya memeluknya, menciumnya, memeluknya, menyusuinya.
Dikirim: January 16th, 2010 | Oleh:Riyogarta | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Beginilah gaya Agha ketika menjaga pencitraan dirinya karena ingin terlihat kasep saat di shooting
Agha itu kalau lihat kamera suka jaim. Nah ini akibatnya, sebelumnya dia meringis-ringis walau doyan mencicipinya, tetapi ketika di shoot saat mencicipi keduakalinya dia bertahan untuk tetap jaim meskipun pada akhirnya gak kuat juga
Dikirim: January 5th, 2010 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Here’s a last year video of Agha taken on October 27, 2009 when we went home from his immunization schedule and blogger gathering at Wetiga. The hot air on that night made an ice cream as a good choice for dessert. Agha, who has already tasted ice cream before was enthusiastically grabbing the ice cream cone from my hand. Chomp it over and over again that makes Yahyo, his father worried that he might have cold. But just watch the video, you will see how Agha crazy of it. :D
Dikirim: November 28th, 2009 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Bulan Oktober 2009 kemarin, Bunli punya supir baru lho… ganteng deh. Namanya Agha ! :D
Yup! Agha sudah latihan nyetir dengan Yahyo setiap hari kami mau berangkat dari rumah. Agha sudah tahu gaya pegang stir, sudah tahu kalau persneling itu bisa digerak-gerakkan, juga sudah punya objek favorit di pintu… kenop kunci pintu! hehehehe kayaknya Agha suka karena mirip *****
Nah pulang dari imunisasi 27 Okt 2009, Agha ceritanya mau antar Bunli ke Wetiga. Sebelum berangkat gaya dulu deh pas difoto sama Yahyo
Dikirim: October 27th, 2009 | Oleh:Yuliazmi | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Apa sih ni? bubur susu rasa sayur mayur Gha
Tanggal 11 September 2009 akhirnya Agha diberi MPASI (Makanan Pendamping ASI) untuk pertama kalinya setelah pulang dari dokter, rencananya mau imunisasi tapi gak jadi krn masih panas. Jadi sebelumnya Agha panas, batuk dan pilek bikin Agha agak-agak enteng dan lemes badannya.
Demi suksesnya MPASI, Bunli dan Yahyo ajak Agha beli biskuit bayi Farley, bubur susu SUN dan buah-buahan. Habis belanja mampir lagi ke rumah Nenek, biar Nenek dan Kakek ikutan lihat Agha makan MPASI untuk pertama kalinya.
Eh enak, Agha mau lagi Bunli
Enak lho... tambah lagi
Bunli cobain 1 sendok teh bubur susu rasa sayur mayur, pertama dikasih Agha masih cuek karena masih lemas. Gak lama Agha mulai antusias, mulai duduk tegak gak sabar menunggu suapan berikutnya. Asyik!
Ternyata pisang juga enak... Agha doyan Bun
Habis bubur susunya, sepertinya Agha masih pengen tambah. Ya sudah Bunli kasih coba makan pisang aja. Eh doyan! Satu buah pisang ambon ukuran kecil yang dikerok halus pakai sendok habis dilahap Agha. Senangnya…, habis itu Agha mulai aktif lagi. Waaaa! Kata Nenek, Agha kemaren lemes karena belum dikasih MPASI sama Bunli nih, padahal Agha sudah lulus jadi sarjana ASIX. Hehehehe, gitu ya Nak, besok2 makannya yang pinter lagi ya!
Dikirim: October 21st, 2009 | Oleh:Riyogarta | Kategori:Bunli&Yahyo | Comments Off
Ceritanya, Agha mendapatkan voucher dari teman Yahyo untuk foto studio. Mulanya kami mengantar Agha di hari Sabtu, 10 Oktober yang lalu, namun ternyata kami diharuskan untuk janjian terlebih dahulu dengan fotografernya. Kami kan tidak tahu harus bikin janji terlebih dahulu, soalnya di vouchernya pun tidak ada tulisan aturan seperti itu. Untung lah jarak studio foto dengan tempat tinggal kami tidak terlalu jauh, jadi kami pun bersedia ketika mereka memberikan jadwal sessi pemotretan jam 15.00 esok harinya, yakni hari Minggu, 11 Oktober.
Esok harinya kami pun berangkat mengantar Agha untuk memenuhi jadwal sessi pemotretan di studio. Dalam hati, kami juga ingin melihat bagaimana sebenarnya studio menangani sessi pemotretan anak dibawah satu tahun. Asal tahu saja, memotret anak di bawah satu tahun itu susah-susah gampang lho. Diperlukan pendekatan yang baik sehingga si anak merasa nyaman dan mau di foto dengan gaya yang sesuai dengan keinginan fotografer atau pemesan foto.
Namun sayang, pendekatan terhadap anak kelihatannya kurang baik dilakukan oleh mereka. Pada akhirnya kami lah yang sibuk membantu si fotografer untuk membuat Agha nyaman di foto. Tapi sudahlah, kami tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh pada akhirnya Agha mau difoto dengan berbagai gaya yang bisa dia lakukan
Selanjutnya, setelah sessi pemotretan selesai dilakukan, kami diharuskan memilih sendiri foto yang hendak di bawa (di burn ke CD). Dari 19 foto yang diambil, yang boleh kami bawa hanya 12. Jadi kami harus merelakan membuang 7 buah foto dengan memilih 12 foto terbaik menurut kami. Berikut ke-12 foto yang kami pilih.
Fotografernya agak jorok dalam pengambilan foto. Studio tidak dilengkapi oleh layar putih sebagai background, namun hanya menggunakan tembok yang ada saja. Perhatikan batas lantai yang ikut ke foto dan juga kaki tripod yang ikut masuk dalam frame. Ketika kami minta agar backgroundnya dibersihkan, yang mereka lakukan adalah memotong (cropping) foto agha dengan teknik yang kasar sehingga potongannya sangat jelas terlihat. Akhirnya saya memutuskan untuk meminta foto aslinya saja (yang belum mereka cropping) dan mengembalikan foto yang telah mereka cropping (karena memang tidak diperbolehkan dibawa dua-duanya).
Setelah itu, kami diharuskan memilih 5 buah foto diantara 12 foto yang kami pilih itu untuk dibuatkan montasenya. Kami pun melakukannya dengan hikmat, memilih foto yang kami suka dari foto-foto yang kami suka semua. Setelah selesai, kami pun memberikan kelima nama file yang telah kami pilih.
Apa yang terjadi? Mereka bilang bahwa foto-foto yang kami pilih tidak bisa di montase. Lho? Kami protes karena diawal saat kami disuruh memilih tidak ada aturan foto seperti apa yang harus kami pilih. Jadi sudah jelas pula kami menolak untuk memilih kembali. Lha capek dong, udah milih-milih terus suruh mengulang memilih lagi, moodnya sudah hilang. Lalu mereka akhirnya berjanji akan mencoba melakukan montase terhadap foto-foto yang kami pilih setelah saya katakan, bahwa jika mereka tidak bisa melakukan montase terhadap foto-foto ini, maka biar saya saja yang melakukannya
Mereka minta waktu satu minggu untuk melakukan montase foto-foto tersebut dan mereka menawarkan kepada kami untuk melihat terlebih dahulu hasil montasenya sebelum dicetak Sabtu, 17 Oktober.
Hari Sabtu yang lalu kami pun datang untuk melihat hasil montase foto-foto Agha. Terus terang, kami sudah pesimis hasilnya tidak bagus, dan ternyata dugaan kami tidak salah. Ini hasilnya:
Terus terang, kami agak bingung ketika ditanya apa yang kurang dengan hasil montase yang mereka buat. Karena kami pikir kurangnya banyak sekali, dan maaf, bagi kami tidak bagus sama sekali. Hanya saya tidak tega untuk mengatakannya jadi hanya diam seribu bahasa.
Karena saya tidak puas atas hasil montase yang mereka buat, akhirnya saya memberikan penawaran, yakni bagaimana jika saya sendiri saja yang melakukan montase foto-foto Agha? Mereka mulanya agak bingung, tapi kelihatannya si Mbak yang melayani juga agak sadar kalau hasil montasenya tidak bagus. Alhasil, kesepakatan dibuat, saya akan membuat montase sendiri dan akan dibawa secepatnya ke studio foto untuk dicetak dengan ukura 80 x 30 cm.
Nah, hari Selasa tanggal 20 kemarin, saat SBY dan Boediono dilantik menjadi Capres dan Cawapres, saya selesaikan tugas membuat montase tersebut. Sambil belajar menggunakan GIMP maka jadilah montase hasil karya Yahyo-nya Agha seperti dibawah ini:
Berbagai perbaikan foto juga saya lakukan, menghilangkan kotoran di backgroud (di tembok), menghilangkan batas lantai, menghilangkan kaki tripod dan sebagainya. Ternyata menggunakan GIMP sama mudahnya dengan menggunakan Photoshop
Sekarang Agha punya foto hasil montase spesial dengan ukuran 80 x 30 cm. Spesial juga karena Ayahnya sendiri yang membuat